Saturday, April 25, 2020
matinya berkibar di bawah bendera keyakinan.
beri aku sedikit lagi waktu untuk kembali ke Al hambra, berlari memperingati sebuah hidup dibawah raja agung dan saat-saat Roh ini jatuh. Sekembali dari perjuangan kejujuran dan setia yang lemah, Tuhan ampuni kita dan setiap bangsa yang tewas hingga dihentak lantai nya dan diperdengarkan loceng-loceng kufur yang dahulunya bergema laung agung.
Mana lagi lagu pengkhianat yang kita harus dengar supaya kita sedar akan keruntuhan itu. Sebuah kerajaan agung yang dulunya mengembeling setiap Roh kitab menjadi penguat bangsa kini letih dan terpinga-pinga dalam benua yang ingkar. Tersesat dan lupa akan jati diri sendiri. Atau mungkin kita telah hampir lupus sikap sikap bangsa yang gagah itu.
Thursday, April 16, 2020
Princess of Antares
fundamental bagi hidup adalah bernafas. berupaya menghirup udara. bagaimana kalau aku khabarkan hidup bukan setakat itu?
Erti kelembutan telah terlahir bersama-sama dalam nya. mendukung jiwa jiwa yang sunyi. Dimana masa mencemburui akan hari itu, kalau bisa terkhianati, tak kan cukup segala sisa sisa saat yang ada. penuh diri nya akan suatu rasa, kasih sayang sesama penduga. Kerinduan dari dunia yang berbeza.Dihari kelahiran nya, alam seumpama sempurna. Segala kejadian menyaksikan keindahan yang terucap, umpama bermadah yang masih tiada. Hilang segala rasa curiga, lahirnya menjadi pengikat antara dua rasa. Teruskan menulis bicara ini.
Memandang ke langit yang gelap, aku yakin kau juga sama, menanti aku disana.
menjenguk peradaban jiwa
berdiri memjenguk peradaban jiwa, dalam kekalutan silam yang masih membelenggu. hidup ada dalam nafas yang terhinggap di gedung masa. letih akan penungguan usang dalam madah madah ringkas yang terselimut hampa. lantas duduk barang seketika di buntut nafsu, reda amarah yang terlepas ini. aku telah lelah.
membendung jiwa yang lara, harus terus hidup sedang hati masih patah direnyuk sisa sisa lepas. kata kata khas hanya untuk membaik jiwa tidak lagi ada yang tersirat dan terlopong memandang aksara aku hanya menulis dari jiwa yang beralun, membisik nada nada puitis yang bergelombang dari dalam, hanyut mengikut alunan muzika itu. biar biar biar aku biar.
melankolik kata mereka.
dalam termenung aku melihat mereka. melankolik kata mereka. tersadung dalam hidup yang tak pasti, melankolik kata mereka. sedang natural nya kita hadap sendiri. kalau manusia itu bisa pupus, jangan ditanya sebabnya. kerana jiwa yang kosong itu tiada ubat walau mengisi air ke dalam telaga. melankolik kata meraka. Melankolik apa kalau sengsaranya kita rasa.
membendung jiwa yang lara, harus terus hidup sedang hati masih patah direnyuk sisa sisa lepas. kata kata khas hanya untuk membaik jiwa tidak lagi ada yang tersirat dan terlopong memandang aksara aku hanya menulis dari jiwa yang beralun, membisik nada nada puitis yang bergelombang dari dalam, hanyut mengikut alunan muzika itu. biar biar biar aku biar.
melankolik kata mereka.
dalam termenung aku melihat mereka. melankolik kata mereka. tersadung dalam hidup yang tak pasti, melankolik kata mereka. sedang natural nya kita hadap sendiri. kalau manusia itu bisa pupus, jangan ditanya sebabnya. kerana jiwa yang kosong itu tiada ubat walau mengisi air ke dalam telaga. melankolik kata meraka. Melankolik apa kalau sengsaranya kita rasa.
Sunday, March 22, 2020
paripari tersesat dalam dunia manusia.
harapan yang membusuk umpama bangkai. dihurung lalat dan gagak, menunggu masa menjadi baja. dan hidup umpama terhenti dalam jangka waktu antara siang dan malam. untuk apa lagi harapan jika jiwa jiwa terus kosong, untuk dibawa mengadap nya. aku umpama reriang bercahaya cantik tapi cuma serangga. sampai masa menghuni penjara manusia, atau mati didesa perawan.
Lihat dan rasa, lembut bahasa ini ada nilainya. kau tahu aku begini dan kau tahu aku akan terus begini, dan harapan yang tinggi itu, umpama syurga pendosa. reyok lembar lembar kertas yang banyak ini, tidak akan mampu melunas hutang penjara. tersangkut dalam dunia manusia yang kosong, aku juga mahu kembali. jika harapan telah kabur buat apa aku terus menggali.
musim berjiwa telah lama terhenti dalam cerita ini.
Wednesday, February 26, 2020
hujan yang datang
aku tenang melihat hujan datang membasah kota damai ini, selepas kemarau yang panjang. aku tenang sekali merasa angin ini, dalam jiwa anak kecil itu. menghidup kembali harap dan kasih. aku tenang sekali memanjat dua tangan syukur pada Tuhan yang Esa, kerana anugerah hidup yang masih ada. Lembut angin ini yang bak sutera membelai kulit bangsa. Setelah berkurun dalam masa penjarah, kita masih kekal teguh berdiri. Aku tenang sekali merasa udara ini, terus menerus membelai suasana, tenang dan damai. Aku tenang sekali melihat hujan ini, datang ke kota damai bawa seribu lagi harapan baru, setelah nusa ditekup lemas dalam mimpi semalam.
Sunday, February 16, 2020
antara dua dinding mimpi
tentu Tuhan pun tahu yang kita sedang menderita.
mana lagi harus aku cari ketenangan dalam dunia yang kalut ini, terus diseksa dan dilantun dalam maya yang tersorot dihujung mimpi. nah kita terus menyusun kata-kata walhal kita ini cuma manusia. harusnya kita hanya mampu berkata. Dihempuk oleh awan yang luruh pun, kita ini hanya mampu melihat. dari sudut mata dua, kita tetap kita. kudus dan tetap lemah. mana lagi harus aku mencari ketenangan jika jiwa harus terus memberontak dipalit rasa gundah, kabur dan terus hampa. Mana lagi harus kita mencari ketenangan Apa perlu antara dua dinding mimpi itu? yang bukan kita penguasa.
beri aku sedikit lagi nafas berguna, bukan mimpi mimpi kosong lagi, bagi aku bisa merentas lagi mimpi mimpi itu, terbang bebas bukan lagi mimpi lama yang terbiar. bagi aku dia yang bermimpi, bukan sang pengejar lara. antara dua dinding mimpi itu, aku tahu aku lihat dia. tersenyum dan menawan. terhinggap oleh rasa nyaman, redup dan aman. dan bukan kita ini sang penguasa, untuk membeda beda suasana, kerna kita cuma sang pemimpi.
Tuhan biar aku bisa merentas antara dua mimpi lagi.
Thursday, February 6, 2020
Teman aku ke bintang
malam ini teman aku ke bintang, bawa segala ayat yang indah dan kalungkan di leher aku. biar semangat untuk hidup ini kembali. biar segala lelah dan susah ini padam sementara, dalam limpahan cahaya bintang itu. biar esok aku bisa untuk terus berdiri, mengadap dunia.
pandu aku ke rumah langit itu, yang dindingnya dari kepul kepul awan tebal, agar tiada lagi aku dengar berita susah dunia, agar aku bisa hidup bahagia selalu dalam mimpi ini. biar lelap mata ini biar redup mata ini, untuk itu aku begini.
basahkan aku dengan impian. dari carik carik kertas lembar kapal terbang ini. kita susun kembali menjadi warkah, impian dari si kecil yang mati. dari jiwa jiwa yang tulus menyinta. hanya untuk mengenal bahagia. harus kita terbang ke lapis langit yang tertinggi, menggapai jiwa anak kecil itu, terus tangan gugur genggam se erat apa pun. dan kita boleh hidup begini saja.
teman aku ke bintang itu yang jauh. disudut angkasa yang paling jauh. disudut tiada lagi semalam. biar kita terus terlewat dari masa, kerana kita hidup untuk kita. akan kita kutip bunga-bunga menjadi taman taman kita, dari segenap limpahan daun dan kita susun menjadi tempat berehat yang permai untuk kita, dalam impian yang segar dan tumbuh mewangi selaman. selama mana hidup tiada budi, kita terus layak menjadi burung. bebas dan gembira.
hanya teman aku ke bintang yang jauh itu.
https://en.wikipedia.org/wiki/Death_of_Alan_Kurdi
https://en.wikipedia.org/wiki/Death_of_Alan_Kurdi
Subscribe to:
Posts (Atom)



















