Friday, April 9, 2021

awan yang tersepi

 


mungkin dulu kita hanyut.

mungkin dulu kita fikir kita bisa terbang jauh, meninggalkan masa lalu yang kelam. menuju masa depan yang lebih indah dan cerah dengan mentari jingga di balik awan, disitu kita berlari di padang luas, gembira tersenyum riang ketawa. desir desir angin mungkin aman melihat kita di saat itu yang kita juga turut merasa, bahagia, bilamana berdua, terus berdua. mungkin dulu kita fikir kita bisa terbang.

mungkin dulu kita fikir kita bisa hanyut dalam sungai hidup, arus yang kejam dan membundar hidup, lalu kita cuba, menghadapi lumrah, dan tewas kita dalam jasa ibunda. leluhur kita sepi dalam menelaah jiwa jiwa yang ada, dan kita, kita cuai dalam melihat arus deras yang membawa, kita lemas dan tenggelam jauh ke biara, abadi kita abadi.

lihat ditepi suasana mu, siapa yang ada. bukan aku. bukan impian kita.

dan aku, ditemani impian tinggi. untuk hidup yang lebih baik.

malam ini aku akan terbang lagi. dibawa impian yang tinggi itu.

impian yang kau tinggalkan sepi.

9 April 2021

berbondong bondong mengejar ilusi

kita masih tersepit dalam dunia asing yang jauh dari realiti. Kita masih terus mengejar dunia biru yang jauh dari nyata dan hanyut dalam peluh peluh keringat bangsa yang menagih simpati dari penguasa, yang hidup dibondong bondong belikat hamba. Kita masih dihasut pemikiran lama yang bila mana acuan menjadi arca. kita masih lupa. siapa kita.

lembut segala bicara yang terungkap diangkat menjadi petir petir indah. menjadi lelangit yang tinggi, tak terjangka minda manusia. hidup dan pengharapan yang lemah dalam ruang lingkup redup, dari madah madah yang indah itu. kita masih menuntun basikal tua, itu, yang mana kita bersama membelai impian lama, dalam kumit kumit senggeta. hanyut dan terhanyut. kita masih kita.

walau hidup sejuta lagi masa, kita masih kita terus menerus mengejar ilusi, bangsa yang aman, hidup dalam lingkaran yang tulus. bangsa yang aman ini, hidup dalam ruang yang tersesar dikeping keping bunga, yang tersalut indah. dalam ruang masa berbeda.

disana kau menanti aku. dibalik awan. keran ada lagi sekelumit cinta.



Saturday, March 20, 2021

Ilusi Korupsi

Kita mungkin selalu sangat dihadap dengan harapan yang seringkali membawa sejuta impian menggunung di hadapan. Gunung-gunung yang tinggi malah bisa menjadi pulau pulau indah, mimpi yang tak terungkap. Namun akan ada masanya mimpi mimpi tidak secantik itu, malah akan menjadi debu debu berterbangan. Menjadi sampah dan terbiar. Tapi, menjadi manusia yang bermimpi dan berimpian tidak pernah salah, menjadi syarat hidup untuk berimpian dan menggapai nya.

Perjuangan.

Menundukkan sebuah impian bukan mudah, malah mungkin harus dibayar dengan sejuta umur dan kudrat. Namun untuk berimpian dan mempunyai harapan sesuatu yang indah, malah menjadi asbab untuk kita terus bangkit dari jatuh, dari lembah, untuk berjaya. Bukan menjadi sang lemah yang menggondong sejuta alasan.

Ilusi.

Duduk bangun sebuah ilusi bergantung kepada pembawaan kita. Memelihara sebuah ilusi menjadi realiti sesuatu yang janggal. Dan mempertahan sebuah ilusi dari jatuh lagi memenatkan. Jangan benarkan ilusi menjadi korup dengan suara suara. Nyaring tapi kosong. Terus berjalan dan tiba masa kau akan berlari. Hingga penamat.



Sunday, November 8, 2020

Hidup dan perjuangan

Hidup belum selesai dan perjuangan belum sempurna, dalam renyai renyai hujan aku berdiri, berharap semoga akan ada mentari dihujung jalan, mengharap agar ada malaikat yang sudi menyambut tangan, disaat jatuh dan terduduk nanti. mungkin kerana aku bukan lagi sesempurna dulu. atau mungkin menuju sesuatu yang belum pasti. sepertinya, hujan hujan akan terus turun, dan mentari tidak akan muncul buat seketika, tapi hujan ini satu hari akan berlalu, dan aku yakin mentari akan jua muncul, dan aku akan bersiap untuk kedatangan hari tersebut.

Jalan jalan menuju mimpi, tidak seindah pelangi. bila mana mentari tidak muncul mengiringi. dan jalan jalan menggapai bintang, bukan selalu terang disuluh bulan, jalan jalan menuju bintang membutuhkan kegelapan, supaya cahaya bintang itu bergemerlapan. Dan bukan kehendak aku untuk dibiar senggeta menjadi cahaya, cuma aku berharap agar, ada mentari akan muncul dihujung harapan. Dan harapan ini, tidak hancur, selagi mana ada cahaya dari Tuhan.

Kalau kau terasa penat, berehat. Bukan berhenti menjadi yang tewas tanpa arah. 




Saturday, October 31, 2020

gelap dalam cahaya

terima kasih buat semua yang mengiringi, tapi aku masih terasa kegelapan dalam cahaya benderang. mungkin juga aku terlupa akan gunanya satu dua tiga untuk mengira, atau sering terlupa menjadi setia dari terus menadah untuk dikecewa. oleh suatu kepercayaan karut marut. dan hati hati itu sedang mencari tasik tasik untuk berehat, tepi dan tenteram. atau sebenarnya cuma sepi dan ditinggalkan. dunia.

Hanya pada nama, terasa seperti mimpi-mimpi.



Wednesday, October 28, 2020

sesat dalam perang padi-padi

dimana silapnya kita.

kerana bukan kerana kita lupa, atau jauh sekali alpa. Minda dan laku tampak selalu seiring. tapi mana silapnya KITA. Dimana lagi silapnya kita, ketika mata masih kabur melihat suasana, sedang mentari jingga cerah mencurah cahaya. Jadi dimana lagi silapnya kita ini. Mulut tidak selalu berkata nusta, apalagi menggoda sang usia, menjadi keping keping terbengkalai. Jauh dari segala sedar. jauh dari segala. Jadi mana lagi silapnya kita. Bilamana setiap usaha untuk menjadi terbaik, selalu gagal dan terbengkalai. Bukan mudah. Atau kita ini selalu juga menjadi baik hingga lupa untuk menjadi yang kejam. 

Dimana lagi silapnya kita bilamana selalu tersungkur terpuruk di penjuru dusta. Muda ini bukan mudah. membongkak dalam keadaan tiada apa apa. dimana lagi silapnya kita. Dimana lagi silapnya kita ini.

Adakah kita ini, tersesat dalam rumpunan padi padi keperangan. mencari jalan keluar dari suatu hidup yang mencengkam. hidup yang kita temui, jauh dari realiti. dan kita masih mengharapkan sesuatu. masih mengharapkan supaya padi padi menjadi putih dan langit kekal cerah.





Friday, October 9, 2020

pepadi keperangan

senjata palig tajam adalah kata-kata.

H'idup. mungkin aku tersilap dalam perumpamaan dan mengumpamakan sahabat seperti lilin adalah tidak tepat. aku mungkin tersilap dalam menentukan hitam dan putih dalam cahaya yang sedikit.. malap dan alpa. terus kita terus menjadi begini, terkurung dalam penjara hati. tidak bebas lagi seperti dahulu. barangkali kau lupa aku juga manusia. tiada pendinding dalam memilih kosa.

I'ndah nian di ufuk barat. terus kita menjadi begini. memandang sudut berbeda dan tidak berusaha meng elok atau menjahit luka. parah kita yang tahu. dan aku juga sakit dibiar begini. tanpa pengertian yang tidak berpenghujung. Mungkin juga kita ini mangsa keadaan.

D'alam kepentingan yang aku susun, tidak sedikit untuk menhilangkan makna setiakawan. kekadang aku cuma lemas dalam keadaan yang ada. Ya terlalu banyak baik nya kau, dan kita cuma nya begini. 

A'pakah disetiap baris baris kata yang aku susun, tiada lagi kemaafan.

Y'ang terabadi dalam kenangan kita.

A'tau kita

H'anya harus selamanya begini. Nanti satu hari kau akan sedar. Di sebalik ayat, ada rahsia untuk kita mengerti.